• Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size
home
Beberapa Model Pembentukan Kewirausahaan PDF Cetak E-mail
Oleh Administrator   
Rabu, 01 Desember 2010 03:31

Berbagai metode dan program pembentukan kewirausahaan telah diperkenalkan pada masyarakat dunia, termasuk diajarkan sebagai mata kuliah di berbagai universitas terkenal dunia. Isu kewirausahaan juga menjadi bahan diskusi dan perbincangan yang semakin menarik seiring tengah menyurutnya lapangan kerja formal serta kemiskinan yang

makin meningkat di berbagai negara. Tidaklah mengherankan apabila Larry C. Farrel dalam bukunya Entrepreneurial Ages menyebut abad 21 sebagai abad entreprenerial atau era kewirausahaan.

Program pembentukan kewirausahaan di Indonesia telah berlangsung cukup lama yang dilakukan di lembaga formal maupun nonformal. Program pembentukan kewirausahaan ini ada yang dilakukan secara mandiri maupun dengan kemitraan dengan dukungan dana pemerintah atau lembaga donor.
Saat ini juga sebanyak lima kementerian di Indonesia menerapkan berbagai program dan aktivitas pengembangan kewirausahaan sehubungan dengan tugas dan tanggung jawab masing-masing kementerian. Kelima kementerian tersebut adalah Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi, Menteri Perindustrian, Menteri Pemuda dan Olahraga, serta Menteri Koperasi dan Usaha Kecil Menengah serta Kementerian Kelautan dan Perikanan.

Beberapa program kewirausahaan di kementerian tersebut antara lain Kementerian Pendidikan Nasional, berbagai program kewirausahaan telah diadakan baik untuk mahasiswa, dosen dan alumni (sarjana). Program tersebut antara lain Program Wirausaha Mahasiswa (PWM) maupun Program Ipteks bagi Bisnis Kampus (IbBK), dan lain-lain. Selain itu, sejak tahun 1997 di perguruan tinggi telah diberlakukan mata kuliah kewirausahaan sebagai mata kuliah wajib.
Pada tahun 2010 pemerintah menargetkan sekitar 1.000 calon wirausaha sarjana dari 10 ribu sarjana yang memperoleh sosialisasi program sarjana wirausaha baru (WUB) se-Indonesia.

Program ini dilakukan oleh Kementerian Negara Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah (Kemennagkop dan UKM) Republik Indonesia. Target tersebut tertuang dalam Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 1 tahun 2010 tentang percepatan program pembangunan tahun 2010 dan program yang menjadi prioritas Kabinet Indonesia Bersatu Jilid II.

Menyadari pentingnya kewirausahaan, Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas) juga menyiapkan konsep kurikulum berbasis kewirausahaan yang mulai diterapkan pada tahun ajaran 2010-2011. Menurut Mendiknas, Muh. Nuh, Kementerian Pendidikan Nasonal tidak akan melakukan perubahan total terhadap pola kurikulum pendidikan yang selama ini sudah diterapkan namun hanya memasukkan substansi pendidikan kewirausahaan pada kurikulum pendidikan.

Substansi kurikulum berbasis kewirausahaan pada dasarnya adalah pembentukan karakter kewirausahaan pada peserta didik termasuk rasa ingin tahu, fleksibilitas berfikir, kreatifitas, dan kemampuan berinovasi. Substansi kurikulum berbasis kewirausahaan selanjutnya akan menjadi bagian materi pelajaran pada setiap jenjang pendidikan, mulai dari Sekolah Dasar (SD) hingga perguruan tinggi. Bentuk materi kewirausahaan akan disesuaikan dengan jenjang pendidikan.

Bekerjasama dengan Kementerian Pendidikan Nasional, sejak tahun 2009 Kementerian Negara Pemuda dan Olahraga mengembangkan program Kewirausahaan Pemuda, antara lain: 1) Program Kewirausahaan Pemuda melalui Lembaga Kepemudaan, 2) Program Kelompok Usaha Pemuda Produktif (KUPP), dan 3) Program Kewirausahaan Pemuda melalui Sarjana Penggerak Pembangunan di Perdesaan (SP3).

Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi, dahulu Depnaker, mengembangkan program yang dikenal Tenaga Kerja Pemuda Mandiri (TKPMP) dimulai pada tahun 1994. Alasan utama pembentukan program ini adalah berkaitan dengan penciptaan kesempatan kerja muda, terutama lulusan perguruan tinggi, yang dibina untuk menjadi wirausaha dengan harapan dapat menciptakan lapangan pekerjaan baik bagi dirinya maupun orang lain.

Dipelopori pelopor properti Indonesia, Bapak Ciputra mendirikan Ciputra Institute Entrepreneurship yang diharapkan menjadi resource center untuk pembelajaran kewirausahaan. Ini dilakukan untuk membuktikan bahwa upaya menciptakan wirausaha muda melalui pendidikan adalah sangat mungkin dilakukan. Ciputra mengusulkan agar pendidikan kewirausahaan harus diselenggarakan di setiap level pendidikan, mulai pendidikan dasar dan menengah, pendidikan tinggi, dan pendidikan masyarakat.

Pada tahun 2002, Presiden Direktur Grup Primagama Purdi E. Chandra mendirikan Entrepreneur University (EU). Dia menjadi pendiri sekaligus pembimbing langsung di lembaga yang berkomitmen menjadi lembaga pendidikan nonformal yang bukan menciptakan calon pencari kerja, tapi menciptakan pengusaha baru. Peserta didik mengikuti pendidikan di EU selama tiga bulan, dimana 60% proses pendidikan ditekankan pada praktek dan 40% pada teori. Oleh karena itu EU menggunakan kurikulum dan sistem pendidikan yang diciptakan sendiri oleh pengusaha atau praktisi. Ikhtiar Purdi ini telah berkembang hingga 2008, EU telah hadir di 66 kota di seluruh Indonesia. Sebagian peserta didik EU juga telah meraih penghargaan sebagai pengusaha sukses sebagaimana dialami Purdi.

Selain program kewirausahaan yang dilakukan lembaga formal maupun nonformal, beberapa lembaga donor internasional juga turut serta dalam upaya pengembangan kewirausahaan di indonesia dan pengembangan usaha kecil dan menengah (UKM) pada umumnya. Program ini antara lain melalui proyek kemitraan pemerintah dan bantuan lembaga donor, seperti ADB, UNIDO, JICA, ILO, USAID, World Bank, Swisscontact, GTZ, dan lainnya.

Lembaga CEFEINDO misalnya, adalah organisasi payung dan jaringan dari perusahaan-perusahaan penyedia layanan CEFE serta asosiasi pelatih-pelatih kewirausahaan yang menerapkan CEFE di Indonesia. CEFE adalah Competency Based Economies through Formation of Enterprises. CEFE merupakan instrumen pelatihan yang komprehensif dengan menggunakan pendekatan berorientasi tindakan (action oriented approach) dan pembelajaran eksperiensial/berbasis pengalaman dalam mengembangkan dan meningkatkan manajemen bisnis dan kompetensi personal dengan kelompok sasaran yang luas, terutama dalam konteks peningkatan pendapatan dan employment/ peluang kerja serta kontribusinya bagi pembangunan ekonomi daerah.

Untuk menjawab tantangan dunia saat ini untuk mewujudkan pendidikan kewirausahaan yang berkualitas, lembaga buruh internasional, ILO telah menciptakan dan mendukung jaringan pelatihan kewirausahaan dengan modul Start and Improve Your Business (SIYB) di 33 propinsi di seluruh Indonesia. Selain itu, Kementerian Pendidikan Nasional juga mereplikasi kurikulum kewirausahaan ILO yang dikenal dengan nama Know About Business (KAB) pada ribuan guru di seluruh Indonesia. Pengembangan modul SIYB dan KAB di Indonesia diharapkan mencontoh keberhasilan di negara sebelumnya seperti di Cina, Laos, Vietnam dan Filipina. Modul yang sama telah diadaptasi dengan tingkat keberhasilan yang tinggi, bahkan Pemerintah Cina menggunakan modul kewirausahaan ILO untuk melatih lebih dari satu juta kaum muda setiap tahun.

 

Terakhir Diubah
 

This content has been locked. You can no longer post any comment.

Online Support

Komentar Terbaru

Statistik Pengunjung

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterHari ini175
mod_vvisit_counterMinggu ini175
mod_vvisit_counterBulan ini175
mod_vvisit_counterSemua hari373843

We have: 101 guests online
IP Anda: 54.145.64.172
 , 
Today: Jul 23, 2017