• Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size
home : Artikel : Bisnis & Ekonomi : Sinergi ABG Mendorong Inovasi (Menyambut Hari Kebangkitan Teknologi Nasional 10 Agustus 2012)
Sinergi ABG Mendorong Inovasi (Menyambut Hari Kebangkitan Teknologi Nasional 10 Agustus 2012) PDF Cetak E-mail
Bisnis & Ekonomi
Sabtu, 11 Agustus 2012 09:32

Tanggal 10 Agustus merupakan salah satu hari bersejarah nasional yang diperingati sebagai Hari Kebangkitan Teknologi Nasional, disingkat Hakteknas. Tonggak sejarah peringatan Hakteknas dimulai pada 17 tahun yang lalu yang ditandai penerbangan perdana pesawat terbang N-250 Gatotkaca pada tanggal 10 Agustus 1995. Peringatan Hakteknas ini bertujuan untuk menghargai keberhasilan putra-putri Indonesia dalam memanfaatkan, menguasai dan mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi juga untuk memberi dorongan kepada mereka untuk terus menerus membangkitkan daya inovasi dan kreasi guna kesejahteraan dan peradaban Indonesia.

Peringatan Hakteknas 2012 dipusatkan di kota Bandung dengan mengambil tema “Inovasi Untuk Kemandirian bangsa”. Pemilihan tema ini merupakan harapan  agar bangsa Indonesia mampu mandiri dengan sumber daya yang dimiliki, memecahkan berbagai problem, mengembangkan inovasi dan riset di bidang ilmu pengetahuan dan teknlogi, serta memiliki keunggulan dan daya saing. Semua kemampuan tersebut dapat terwujud dengan mendorong inovasi dengan melibatkan sinergi  3 (tiga) unsur utama dalam ABG (Academics, Bussiness, dan Government) yang dikenal dengan konsep triple helix.

Daya Saing Nasional
Abad 21 ditandai dengan kian terbuka dan mengglobalnya peran pasar, investasi, dan proses produksi dari perusahaan-perusahaan transnasional, yang kemudian dikuatkan oleh ideologi dan tata dunia perdagangan baru. Kedepannya,  dunia digambarkan akan ditandai oleh perkembangan teknologi luar biasa. Perekonomian akan dipengaruhi oleh teknologi informasi, teknologi material, genetika dan teknologi energi.

Hanya bangsa dan negara yang memiliki kemampuan menguasai teknologi tinggi dan canggih akan mengambil manfaat. Sebaliknya, bangsa-bangsa yang tidak mampu mengantisipasi akan terus terpuruk, tetap berada di pinggiran dari panggung dunia yang menghadirkan kemajuan. Pada lapisan lebih dalam sangat diperlukan sumber daya manusia yang andal, yang mampu menguasai perkembangan dan kemajuan teknologi untuk peningkatan kesejahteraan manusia.

Faktanya, kondisi bangsa ini masih jauh dari yang kita harapkan, apalagi menyongsong masa depan yang sarat peluang dan tantangan. Mengutip laporan Institute for Management Development 2012, Indonesia menduduki peringkat ke-42 untuk negara berdaya saing tinggi. Angka ini merosot dari tahun sebelumnya di peringkat 33. Indonesia kalah dari Malaysia yang naik ke peringkat 14 dan Korea ke 22. (vivanews.com, 12 Mei 2012).

Peningkatan daya saing, menggunakan peran ilmu pengetahuan dan teknologi, memerlukan sarana dan prasarana yang menjadi tanggung jawab bukan saja oleh negara, melainkan juga peran aktif dari masyarakat. Kemajuan dan kesejahteraan pada saat ini memerlukan partisipasi masyarakat. Pemanfaatan ilmu pengetahuan dan teknologi merupakan sinergi tiga komponen utama: akademisi, kelompok bisnis, dan pemerintah (triple helix).

Peran ABG

Di dunia saat ini berlaku paradigma ekonomi berbasis ilmu pengetahuan (knowledge based economy), bukan lagi ekonomi berbasis pada sumber daya alam. Sebagai contoh, negara-negara dengan sumber daya alam yang minim, dan bahkan tidak ada sama sekali, dapat mencapai kesejahteraan yang luar biasa. Misalnya saja Singapura, Jepang, dan Finlandia. Sumber daya manusia yang makin unggul, ditopang pula dengan pemanfaatan sumber daya modal, membuat negara-negara tersebut menjadi lebih sejahtera. (Soeroso, 2009).

Lebih jauh menurut Prof Barmawi, apabila ukuran sejahtera diindikasikan dalam GDP (produk domestik bruto), maka negara-negara yang bertumpu pada ilmu pengetahuan dan teknologi, GDP-nya US$ 20.000 ke atas. Sedangkan negara-negara yang masih mengandalkan pada sumber daya alam, GDP-nya di bawah US$ 2.000. (Kompas, 22 Juni 2009).

Pada tahun 2002, pemerintah mengeluarkan UU Nomor 18 tentang Sistem Nasional Penelitian, Pengembangan, dan Penerapan Iptek (Sisnas P3 Iptek). Tujuan utama dikeluarkannya UU tersebut adalah mendukung sistem inovasi nasional. Adapun urat nadi sistem inovasi adalah sinergi di antara tiga komponen utamanya, yaitu lembaga riset, universitas, dan industri. Konsep tersebut dikenal dengan model triple helix atau ABG, yaitu akademisi, bisnis, dan pemerintah

Kelompok akademisi atau peneliti di perguruan tinggi serta lembaga litbang berperan dalam proses invensi, yaitu menemukan hal-hal yang baru. Selanjutnya, berbagai temuan dengan sentuhan konsep ekonomi dari para pebisnis, menjadi inovasi yang berpotensi memiliki nilai jual. Untuk mencapai rangkaian invensi dan inovasi ini sampai ke pasar, diperlukan suasana yang mendukung dan hal ini diciptakan oleh pemerintah dengan peraturan-peraturan yang kondusif. Dengan sinergi akademisi, pebisnis dan pemerintah diharapkan suatu daerah atau negara akan lebih maju dan mencapai sejahtera.

Dengan demikian, perlu upaya membangun industri-industri dan memperkuat kemampuan litbang dengan model sinergi jejaring. Apabila seluruh mata rantai ABG sudah terhubung dengan baik, maka hasil litbang dapat dimanfaatkan secara optimal sehingga dapat memenuhi kebutuhan masyarakat sebagai pengguna dengan difasilitasi oleh para pebisnis dan dukungan pemerintah.

Pada akhirnya, Ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) adalah salah satu kunci keunggulan suatu bangsa. Namun,  yang lebih vital dari itu adalah motivasi suatu bangsa menguasai iptek. Selama motivasi ini ada maka bangsa itu tak kan pernah kenal lelah untuk mempelajari dan mengembangkan iptek serta menyiapkan segala infrastruktur yang diperlukan. Mereka tak cuma akan mengejar ketinggalannya, namun juga akan selalu bisa mempertahankan keunggulan yang telah mereka raih.

Motivasi yang paling tinggi adalah nilai keyakinan bahwa pekerjaan itu benar dan harus dilakukan, selajutnya ditanamkan ke dada manusia untuk diwarikan kepada generasi berkutnya. Manusia akan bekerja bebas tanpa paksaan, merdeka tanpa harus tunduk pada kendala ekonomi karena bekerja berdasarkan keyakinan (aqidah). Motivasi inilah yang dimiliki oleh para nabi, yang juga diwarisi umat Islam pada masa lalu, sehingga bisa mengangkat bangsa yang "ummi" (buta huruf) menjadi bangsa yang meninggalkan jejak yang luar biasa pada dunia iptek. Wallahu alam


(Bahrul ulum Ilham/Direktur Makassarpreneur)

 

 

Add comment


Security code
Refresh

Online Support

Bappeda Sosialisasi Pengembangan UMKM Lorong

Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) kota Makassar menggelar sosialisasi pengembangan usaha mikro dan industri rumah tangga lorong melalui klinik bisnis terpadu (KBT).

Acara yang diikuti sekitar seratus orang peserta ini dilaksanakan di Hotel Mercure Makassar, Senin (23/5). Acara dibuka secara resmi oleh Ismunandar, Staf Ahli walikota bidang peningkatan kualitas manusia. Hadir pula Sekretaris Bappeda Nur Kamarul Zaman dan kepala bidang ekonomi Muhammad Asfat.

Kegiatan ini menghadirkan narasumber Bahrul ulum dari Makassarpreneur, Muh. Nurfitrani dari PLUT KUMKM Sulsel, Dr. Andi Nur Bau Massepe (akademisi Unhas) dan Dr. Mukhlis Sufri (UMI Makassar), dengan dipandu Dr. Johansyah dari Bappeda Makassar.

 

Dalam sambutannya Ismunandar mengatakan, pemberdayaan ekonomi  lorong merupakan program unggulan Pemkot Makassar dalam membangun kesejahteraan masyarakat. Ibarat sel dalam tubuh, lorong menjadi basis kekuatan perekonomian dengan memperkuat industri atau usaha mikro dan kecil berbasis lorong, tambahnya.

Read more text

Komentar Terbaru

Statistik Pengunjung

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterHari ini99
mod_vvisit_counterMinggu ini99
mod_vvisit_counterBulan ini99
mod_vvisit_counterSemua hari373767

We have: 27 guests online
IP Anda: 54.167.253.186
 , 
Today: Nov 19, 2017