• Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size
home : Artikel : Seputar UKM : Pendampingan UMKM: Tantangan, Masalah dan Solusi
Pendampingan UMKM: Tantangan, Masalah dan Solusi PDF Cetak E-mail
Seputar UKM
Jumat, 18 Mei 2012 15:42

Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) merupakan penopang perekonomian bangsa. Kita bahkan tidak dapat menafikan betapa sangat besar peran UMKM dalam menekan angka pengangguran, menyediakan lapangan kerja, mengurangi angka kemiskinan, meningkatkan kesejahteraan dan membangun karakter bangsa melalui kewirausahaan.

Pada pertengahan 2011, data pertumbuhan UMKM di Indonesia menunjukkan angka lebih dari 53 juta, dengan jumlah tenaga kerja terserap mencapai angka 102 juta. Hal ini semakin menunjukkan besarnya potensi UMKM dalam peningkatan kesejahteraan rakyat.

UMKM di Sulsel

Pertumbuhan UMKM di Sulawesi selatan menunjukkan angka yang cukup signifikan pada periode 2006 hingga pertengahan 2010. Berdasarkan data yang dirilis oleh Dinas Koperasi dan UKM Provonsi Sulawesi Selatan pada bulan Juni tahun 2010, Jumlah Usaha Mikro Kecil dan Menengah di Provinsi ini telah mencapai 860.810 unit usaha. Sebagian besar unit usaha tersebut masih tergolong dalam bentuk usaha mikro. Hal ini, dikarenakan kondisi keterbatasan modal yang dimiliki oleh pengusaha

Dari total UMKM di Sulsel, jumlah UMKM untuk sektor perdagangan mencapai 408.677 unit usaha, sektor jasa mencapai 214.567 unit usaha, sektor produksi 108.134 unit dan industri sebanyak 16.745 unit usaha.

Seiring dengan pertumbuhan UMKM yang semakin meningkat, ada beberapa hal yang dianggap masih menjadi kendala ataupun masalah yang dirasakan oleh sebagian besar UMKM yang tersebar diseluruh daerah. Beberapa bidang yang membutuhkan pendampingan dan penguatan di antaranya Tehnik Produksi, Manajemen Keuangan dan Pemasaran, sering menjadi keluhan mereka. Disinilah peran seorang pendamping sangat dibutuhkan untuk memfasilitasi pelaku UMKM untuk menjadikan usaha mereka tumbuh dan berkembang dengan baik. Berbagai macam bentuk layanan pendampingan yang diberikan tentunya harus berdasarkan kebutuhan masing-masing UMKM.

Mendampingi UMKM adalah pekerjaan yang membutuhkan tidak hanya fisik namun juga ketahanan mental. Kekuatan mental dibutuhkan untuk menghadapi semua bentuk tantangan dan kendala di lapangan. Karena setiap UMKM akan memiliki karakter yang berbeda. Perbedaan karakter inilah yang kemudian menjadikan setiap permasalahan akan berbeda sehingga penyelesaiannya pun akan berbeda. Jika kemudian pendamping tidak mampu menyikapi setiap perbedaan yang ada, besar kemungkinan kendala yang dihadapi oleh UMKM tidak dapat terselesaikan dengan baik.

Perbedaan karakteristik UMKM sangat dipengaruhi oleh budaya atau kultur wilayah dimana UMKM berlokasi. Pendekatan yang digunakan ikut menentukan keberhasilan pendampingan di lapangan. Salah satu yang penting dalam hal ini adalah penggunaan bahasa yang tepat dalam memberikan layanan konsultasi untuk membuat pelaku UMKM cepat memahami informasi yang mereka terima. Untuk itu, sangat penting bagi seorang pendamping untuk memahami budaya dan karakteristik UMKM dampingannya sebelum benar-benar turun menyelesaikan permasalahan yang ada.

Sebagai contoh misalnya, kami pernah mendampingi beberapa kelompok usaha perempuan pesisir di empat kabupaten di Sulsel, yakni Barru, Pangkep, Maros dan Takalar. Kelompok-kelompok ini awalnya terbentuk melalui Program Restoring Coastal Livelihood oleh Oxfam melalui kemitraan dengan beberapa LSM sebagai Implementing Agent. Dalam perkembangannya kami diminta untuk memberikan penguatan pada aspek tata kelola keuangan (pembukuan) dan pemasaran.

Yang menarik dari kelompok-kelompok ini adalah 90 persen anggotanya menggunakan bahasa daerah setempat sebagai alat komunikasi sehari-hari. Meski sebenarnya mereka mengerti dengan bahasa Indonesia, namun untuk memudahkan pendampingan, setidaknya kami selaku pendamping harus bisa beradaptasi dengan mereka, meskipun hanya dengan menggunakan beberapa kosa kata penting. Tujuannya adalah mereka dapat memahami apa yang disampaikan dalam proses pendamingan. Di samping itu, akan memberikan dampak psikologi terhadap penerimaan mereka akan keberadaan pendamping dalam komunitas mereka.

Pendekatan ini menjadi sangat penting, karena untuk membentuk mereka menjadi kelompok usaha adalah pekerjaan yang membutuhkan ketahanan mental yang ekstra kuat. Karena setelah terbentuk, ide usaha mereka baru bisa berjalan di tahun kedua. Artinya, dua tahun adalah waktu yang dibutuhkan oleh pendamping untuk mengenali dan mendalami karakter mereka melalui budaya dan kebiasaan mereka.

Pengalaman lain kami dalam mendampingi UMKM, adalah sebagian besar masih dalam lingkup permasalahan yang klasik yaitu aspek manajemen, pemasaran, dan karakter pribadi pelaku UMKM itu sendiri. Hampir setiap UMKM memiliki salah satu dari permasalahan tersebut. Dan karena setiap pendamping memiliki keterbatasan kapasitas, maka disinilah dibutuhkan sinergitas antar pendamping melalui kerjasama tim untuk menyelesaikan setiap permasalahan yang ada.

Untuk itu, keberadaan sebuah lembaga pengembangan bisnis atau Business Depelopment Service Provider (BDS-P) adalah penting untuk menjadi payung dalam menemukan kekuatan posisi mereka sebagai konsultan bagi UMKM.

Problematika UMKM

Timbulnya beragam permasalahan sangat berkaitan erat dengan keberadaan pendamping atau fasilitator dalam mendampingi UMKM. Minimnya bimbingan menjadikan UMKM sulit untuk berkembang karena factor-faktor tersebut diatas. Dengan kata lain, kemajuan UMKM sangat ditentukan oleh besar kecilnya peran pendamping di lapangan.

Berdasarkan pengamatan dan penglaman dalam memberikan konsultasi atau pendampingan, terdapat beberapa jenis kendala atau permasalahan yang sering dikeluhkan oleh UMKM, yaitu:

  1. Kualitas sumber daya manusia UMKM yang masih rendah serta minimnya pengetahuan dan kompetensi kewirausahaan mengakibatkan rendahnya produktivitas usaha dan tenaga kerja. Hal tersebut juga tampak pada ketidakmampuan mereka dalam hal manajemen usaha, terutama dalam hal tata tertib pencatatan / pembukuan.
  2. Banyak UMKM yang belum memiliki badan hukum yang jelas. Sebagian UMKM juga kurang memiliki pengetahuan tentang aspek legalitas dan perizinan, termasuk persyaratan yang harus dipenuhi dan prosedur yang ditempuh dalam proses pengurusannya.
  3. Kurangnya inovasi produk. UMKM dinilai masih kurang menguasai teknologi, manajemen, informasi dan pasar. Sedangkan untuk memenuhi kebutuhan tersebut, UMKM memerlukan biaya yang relatif besar, apalagi jika dikelola secara mandiri.
  4. UMKM juga masih menghadapi kendala dalam hal akses modal dan pendanaan. Akibatnya, UMKM kesulitan dalam meningkatkan kapasitas usahanya atau mengembangkan produk-produk yang mampu bersaing. Sebagian besar UMKM belum cukup tersentuh oleh pelayanan lembaga keuangan formal (bank). Sehingga tidak sedikit dari UMKM terpaksa memanfaatkan jasa lembaga keuangan mikro yang tradisional -meskipun dengan beban dan resiko yang cukup memberatkan- demi mempertahankan kelangsungan hidup usahanya.
  5. Kurangnya tenaga pendamping di lapangan menyebabkan banyak UMKM yang belum tersentuh layanan konsultasi dan pendampingan. Dengan demikian, sangat dibutuhkan kehadiran lembaga pengembangan bisnis untuk memfasilitasi pelaku UMKM dan memberikan layanan sesuai kebutuhan mereka.

Beberapa Solusi Yang Ditawarkan

Pemberdyaan UMKM melalui pendampingan merupakan langkah strategis untuk memajukan UMKM agar tumbuh dan berkembang secara matang. Munculnya berbagai permasalahan dalam mengelola sebuah usaha hendaknya dijadikan sarana pembelajaran untuk menemukan solusi terbaik. Tidak satupun UMKM yang tidak mengalami kendala dalam pertumbuhannya. Akan tetapi setiap kendala hendaknya dijadikan tantangan untuk melakukan perbaikan dalam semua aspek manajemen di dalamnya.

Maka untuk menyelesaikan masalah-masalah tersebut, ada beberapa hal yang perlu dilakukan:

  1. Pemerintah hendaknya menyediakan tenaga pendamping yang handal yang memiliki kapasitas mampu menangani dan menyelesaikan setiap masalah yang muncul pada UMKM, serta meningkatkan kapasitas pendamping UMKM melalui perlatihan dan bimbingan berkesinambungan. Karena seiring berjalannya waktu, akan semakin beragam pula tingkat kesulitan dan masalah yang akan dihadapi di lapangan.
  2. Dukungan dari pemerintah sangat dibutuhkan untuk menyediakan program khusus pemberdayaan UMKM dengan menyiapkan anggaran khusus untuk memajukan UMKM, baik untuk UMKM itu sendiri, maupun untuk kesejahteraan pendampingnya.
  3. Di setiap daerah, perlu kiranya disediakan sebuah wadah pelayanan yang maksimal untuk membantu UMKM agar dapat berkembang lebih baik lagi. Sebuah wadah yang lebih dikenal dengan istilah SENTRA LAYANAN UMKM sebagai pusat konsultasi dan pendampingan UMKM, yang bertujuan untuk memfasilitasi UMKM yang mengalami kesulitan dalam memasarkan produknya, juga sebagai pusat peningkatan kapasitas dan pemberdayaan UMKM secara terpadu.

Rahmatia Nuhung (Sekretaris Makassarpreneur)

 

 

Add comment


Security code
Refresh

Online Support

Komentar Terbaru

Statistik Pengunjung

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterHari ini265
mod_vvisit_counterMinggu ini265
mod_vvisit_counterBulan ini265
mod_vvisit_counterSemua hari373933

We have: 144 guests online
IP Anda: 54.162.138.175
 , 
Today: Jul 22, 2017