• Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size
home : Catatan Perjalanan : Catatan Perjalanan Ke Pulau Barrang Lompo
Catatan Perjalanan Ke Pulau Barrang Lompo PDF Cetak E-mail
Oleh Bahrul Ulum   
Senin, 02 Januari 2012 15:06

Di penghujung tahun 2011, pengurus Makassarpreneur terdiri dari Bahrul, Asgaf dan Ramdan bersama beberapa mahasiswa kelautan Unhas mengadakan perjalanan ke pulau Barrang Lompo. Pulau yang berjarak sekitar 7 mil dari pusat kota ini merupakan salah satu pulau spermonde yang masuk dalam wilayah kecamatan Ujung Tanah Kota Makassar. Berikut catatan perjalanan yang ditulis oleh Asgaf, Ketua Divisi UMKM Makassarpreneur.

Dermaga kayu Bangkoa jelang siang tampak begitu ramai. Pelabuhan mini tempat bersandarnya beberapa kapal kayu itu sibuk dengan lalu lalang penumpang dan awak kapal yang menaikkan atau menurunkan barang di kapal. Tampak beberapa Kapal-kapal kayu bersandar dengan tujuan Barrang lompo, Barrang Caddi dan pulau Kodingareng yang masih dalam wilayah kota Makassar.

Sekitar pukul 9.30 pagi saya sudah tiba di Kayu Bangkoa.  Sambil menunggu rekan lain, saya pun manfaatkan untuk sekedar mencari informasi tentang Kayu Bangkoa. Di tengah  kesibukan orang-orang dengan barang bawaannya serta buruh gerobak yang cekatan mengantarkan barang ke atas kapal, mata saya tertuju di pojok pintu masuk dermaga. Tampak seorang ibu paruh baya sibuk menjajakan beberapa penganan tradisional.

Daeng Nyangki, nama ibu yang jualan Buras dan Lammang yang hari itu tampak ramai pembeli. Si ibu ini ternyata bukan orang Makassar tapi datang jauh-jauh dari Bangkala Barat Kabupaten Jeneponto. Dari penuturannya, ia menjajakan dagangannya sejak pukul 8 pagi sampai jam 10 malam. Dalam sehari, ibu tiga anak ini mengaku memproleh pendapatan perharinya Rp 300.000,- dengan menjajakan Buras dan Lammang seharga Rp 1000 tiap potongnya. Si ibu sangat bersyukur karena meskipun jarak tempuh dari rumahnya cukup jauh dengan ongkos pete-pete Rp. 30.000 Pergi-Pulang, sebulan ia bisa memperleh pendapatan bersih tiga juta perbulan. “Syukur Alhadulillah nak, saya bisa dapat tiga juta bersih perbulan, ya segitulah saya dapat. Sekarang saya sudah bisa perbaiki rumah di kampung", urainya bangga

Sebelum jualan di kayu Bangkoa, tiga tahun yang lalu Daeng Nyangki jualan daun pisang di tempat yang sama. Hasilnya pun cukup lumayan namun kendala daun pisang yang terbatas jika musim kemarau tiba yang banyak sobek maupun rusa. Karena itu Dg Nyangki akhirnya mencoba membuat Lammang dan Buras untuk dijual dan usahanya masih berlnajut sampai kini.

Sekitar pukul 11 siang kapal kayu yang kami tumpangi akhirnya berangkat. Nama kapalnya “Novitasari Barrang Lompo Express” yang kata beberapa penumpang salah satu kapal vaporit karena berangkatnya selalu tepat waktu dan tidak menunggu kapal harus penuh. Kapal kayu ini layaknya disebut “bus air” karena desain kursi-kursinya seperti penumpang di bus kota.

Tak terasa kurang lebih perjalanan sekitar satu jam akhirnya kami tiba di Pulau Barrang Lompo. Dengan membayar Rp. 10.000 per penumpang akhirnya kami menginjakkan kaki di pulau yang memiliki luas kira-kira 49 hektar. Kami pun segera menuju ke Marine Station yang merupakan pusat penelitian Fakultas Kelautan dan Perikanan Universitas Hasanuddin. Kami disambut hangat Pak Ridwan yang merupakan pengelola Marine Station Unhas. Setelah istirahat sejenak di kamar asrama putra,kami pun di ajak santap siang.

Sore hari jelang ashar saya melaksanakan sholat di masjid Nurul Mustaqim yang cukup megah. Saya juga memperhatikan rumah-rumah yang berderet begitu rapat dan padat serta tampak beberapa rumah yang cukup bagus. Sepintas, perekonomian di Pulau Barrang Lompo ini terbilang cukup baik. Tak sabar rasanya segera menelusuri kehidupan warga di pulau Barrang Lompo ini.

Kesejukan udara terasa di pulau Barang Lompo saat menelusuri jalan berpavin blok. Kata seorang warga, panjang jalan yang berpavin blok ini sekitar 1,5 kilometer. Di pulau yang dikenal dengan keindahan dan kekayaan hasil lautnya, sekitar 90%, mata pencaharian penduduk adalah nelayan dan selebihnya di sektor lain. Teripang adalah salah satu hasil laut yang banyak mengubah kehidupan masyarakat di pulau Barrang Lompo. Konon, sejak tahun 1970-an, warga Barrang Lompo sudah mulai mencari teripang.

Salah seorang warga yang saya temui, Daeng Saso’ (26), warga RK-4 bercerita tentang pengalamannya mencari teripang. Ia menjelaskan, tiga bulanan ini penghasilan nelayan penyelam teripang peroleh hasil yang lebih baik bila dibandingkan musim sebelumnya. Tidak heran bila hasil penjualan perbulannya mencapai nilai milyaran rupiah dari enam puluhan kapal yang beroperasi di pulau ini.

Kapal yang dinaiki Daeng Saso’ sendiri memuat teripang 168 kilo (1,6 ton) selama 26 hari melaut, kapal beranggotakan 14 awak ini  membagi hasil delapan juta rupiah per awaknya. Beberapa jenis teripang yang menjadi komoditi masyarakat pulau yaitu; teripang pasir, teripang gonrong, teripang biba, terapung koro, dan teripang super (istilah, nama teripang setempat). Harga teripang cukup variatif dari Rp160,000/kilonya sampai Rp500,000/ekornya tergantung jenis dan kualitas teripangnya, teripang jenis gonrong yang paling banyak di peroleh nelayan musim ini, Perkilonya mencapai 160 ribu. Sedangkan teripang koro dan teripang super memiliki harga lebih tinggi dari teripang lainnya, harga bisa mencapai Rp500,000/ekor.

Pulau yang berpenghuni ± 5000 jiwa ini sebagian besar adalah nelayan pencari teripang, rezeki yang lebih diperoleh dari melaut cukup menjadi alasan, dimusim ini penghasilan nelayan berkisar antara 7 juta sampai 12 juta tiap kali bongkar muat. Namun jika keberuntungan tidak berpihak, banyak kemungkinan yang terjadi, misalnya nelayan hanya bisa membayar ongkos operasional dan biaya kebutuhan_makan minum selama melaut yang nilainya mencapai 21 sampai 30 juta rupiah, belum lagi resiko terserang dekompressi akibat perubahan tekanan air. Minimnya pendidikan membuat profesi ini tetap dilakoni, sedang pengalaman bertahun-tahun bisa mengurangi resiko, menurut masyarakat nelayan.

Keesokan harinya, Kapal kayu Novitasari Barrang Lompo Express, membawa rombongan kami kembali ke kayu bangkoa. Haji Dahrin (46), ditemui tengah duduk di belakang kemudi kapalnya. Ayah tiga anak ini pernah tertangkap aparat Australia (1997), karena perahunya melewati wilayah perbatasan Indonesia-Australia. Insiden ini menyebabkan terbakarnya kapal pencari teripang di negara kongguru.

Sejak itu Haji Dahrin tidak lagi mencari teripang, warga Barrang ini kemudiam mutar haluan nafkah mencari ikan hidup yang di antar langsung ke makassar, PT Bintang Timur_tujuan ekspor.
Hasil dari tangkap ikan hidup inilah dikumpulkan untuk membeli kapal kayu, kapal bekas direnovasi ulang, agar beroperasi layaknya kapal baru. Ya, inilah kapal yang membawa rombongan kami kembali ke tumbak kayu bangkoa, tiga tahun sudah kemudi kapal Novitasari Barrang Lompo Express dikendalikan oleh pak Haji.

Di hari-hari biasa kapal ini cuma membawa tujuh puluhan orang saja sekali jalan, kalau menjelang hari raya_lebaran kapal bisa muat dua ratusan orang. Pak haji bersyukur, karena seringnya mendapat order pengantaran logistik dari perusahaan-perusahaan atau pun dari pengusaha lokal pulau teripang, dalam seminggu kisaran tujuh juta sampai lima belas juta diperoleh, tergantung jenis orderannya. (asgaf)

 

Add comment


Security code
Refresh

Online Support

Pemkot Makassar Bentuk Investmen Center

Pemerintah Kota Makassar melalui Badan Perizinan Terpadu dan Penanaman Modal menggelar diskusi membahas pengembangan potensi unggulan daerah dalam rangka pembentukan pusat investasi (investment centre) bintang lima, Selasa (26/4/2016).

Diskusi yang berlangsung di Karaeng Room Hotel Santika Makassar itu dihadiri sejumlah stakeholder, dengan narasumber Keua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Sulsel, Zulakrnai Arif, Konsultan Pusat Layanan Usaha Terpadu (PLUT) KUMKM Sulsel yang juga Direktur Makassarpreneur, Bahrul ulum dan Pengamat Ekonomi Unhas, DR. Marzuki, DEA

Kepala Badan Perizinan Terpadu dan Penanaman Modal Makassar Taufiek Rachman mengatakan, investement centre merupakan ide Walikota Makassar, Danny Pomanto yang bertujuan meningkatkan pererkomian masyarakat. Investment forum ini diharapkan akan mengembalikan kejayaan Makassar sebagai hub untuk Kawasan Indonesia Timur (KTI).

Read more text

Komentar Terbaru

Statistik Pengunjung

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterHari ini169
mod_vvisit_counterMinggu ini169
mod_vvisit_counterBulan ini169
mod_vvisit_counterSemua hari373837

We have: 91 guests online
IP Anda: 54.167.253.186
 , 
Today: Nov 19, 2017