• Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size
home : Artikel : Bisnis & Ekonomi : Trend : Ramai-Ramai Jadi Pejabat Publik
Trend : Ramai-Ramai Jadi Pejabat Publik PDF Cetak E-mail
Bisnis & Ekonomi
Kamis, 10 November 2011 11:23

Ramai-ramai menjadi pejabat publik saat ini sudah menjadi trend. Di berbagai sudut jalan bertebaran baliho, spanduk, stiker dan berbagai media promosi lainnya yang memajang gambar-gambar kontestan pemilukada atau kandidat ketua partai atau ormas. Dengan berbagai kata memikat atau sekedar ucapan selamat, mereka menebar pesona dengan harapan dapat dikenal secara luas di masyarakat.

Saat ini bukan lagi sekedar politisi berlomba menjadi pejabat. Banyak pula pengusaha pensiun dini lalu beralih menjadi pejabat, bahkan  seiring otonomi daerah maka banyak artis muncul kepermukaan mencalonkan diri jadi kepala daerah, baik provinsi maupun kabupaten/kota. Menjadi hal lazim pula keluarga pejabat negara di berbagai wilayah di Indonesia berlomba menjadi pejabat negara baik di legilastif maupun eksekutif. Karena popularitas orang tuanya, mertuanya, suami-isteri, kakaknya atau kerabatnya yang menjadi pejabat negara memudahkan dinasti politik menjadi kekuatan dan dikenal masyarakat. Trend jadi pejabat  saat ini seolah menjadikan jabatan sebagai posisi yang menjanjikan kemakmuran, kehormatan, dan kemudahan mendapatkan akses bagi kepentingan hidupnya.

 

Melihat kondisi ini, maka kita akan mendapatkan perbedaan yang sangat jauh bila melihat sikap dan kehidupan para sahabat Rasul dalam memperoleh jabatan. Menjadi pejabat, pelayan umat memang dapat menjanjikan anugerah pahala yang luar biasa. Namun jabatan juga menjanjikan laknat, membuat hina dan menyesal pemegangnya yang gagal mengatasi godaan kekuasaan.

Jabatan Sebagai Amanah
Lima belas abad yang lalu, Rasulullah telah berpesan kepada umat Islam mengenai ‘panasnya’ kursi jabatan. Menjadi pejabat sungguh berat, sehingga di masa Rasulullah beliau pernah menolak sahabat yang meminta jabatan dan ada pula beberapa sahabat yang menolak jabatan ketika disampaikan besarnya amanah yang dipikul sebagai pejabat.

Abu Dzar Al Ghifari, suatu ketika bermaksud meminta jabatan kepada`Rasulullah Saw. "Wahai Rasulullah, tidakkah anda menjadikanku sebagai pegawai (pejabat)?", kata Abu Dzar kepada Beliau. Sembari menepuk bahu Abu Dzar, Rasulullah bersabda: "Wahai Abu Dzar, kamu ini lemah (untuk memegang jabatan) padahal jabatan merupakan amanah. Pada hari kiamat ia adalah kehinaan dan penyesalan, kecuali bagi siapa yang mengambilnya dengan haq dan melaksanakan tugas dengan benar."

Bayangkan, Abu Dzar sosok sahabat gagah berani yang memproklamirkan ke-Islamannya di ka’bah sehingga dikerubuti orang-orang Quraisy masih disebut lemah, tidak layak memegang jabatan. Dilihat keberaniannya, jasa dan ilmunya, barangkali beliau masih lebih baik dibanding muslim terbaik saat ini.

Abu Dawud meriwayatkan dari Abu Mas’ud, bahwa Rasulullah pernah memberikan briefing pada para pejabat pengumpul zakat (‘amil). Rasul memberi petunjuk “Hai Abu Mas’ud, berangkatlah. Semoga di hari kiamat aku tidak mendapatimu dengan seekor onta sedekah yang kau curangi meringkik di punggungmu”. Menyadari resiko demikian, Zaid berkata,” Jika demikian, aku tidak (jadi) berangkat.” Kata Rasul, “Aku tidak memaksamu”. Seorang pejabat Anshar, begitu mendengar resiko kecurangan sekecil jarum pun di hari kiamat, langsung menyerahkan jabatannya pada Rasulullah SAW (HR. Imam Malik, Abu dawur dari Al-Kindiy).

Menjadi seorang pemimpin dan memiliki sebuah jabatan merupakan impian semua orang kecuali sedikit dari mereka yang dirahmati oleh Allah. Mayoritas orang justru menjadikannya sebagai ajang rebutan khususnya jabatan yang menjanjikan berbagai kesenangan. Sunggguh benar sabda Rasulullah, ketika beliau menyamapikan hadist yang diriwayatkan dari Abu Hurairah :“ Sesungguhnya kalian akan nanti akan sangat berambisi terhadap kepemimpinan, padahal kelak di hari kiamat ia akan menjadi penyesalan”.

Kiranya negeri Indonesia dengan segenap karunia Allah SWT terlalu berharga bila diurusi oleh manusia-manusia serakah yang tidak amanah. Rakyat Indonesia berhak menikmati berkah dan rahmat Allah SWT yang sangat melimpah ini. Perlu sosok-sosok pemimpin umat yang amanah dengan menjalankan sistem kenegaraan yang benar agar segala yang ada di negeri ini tidak tersia-siakan seperti saat ini.

Kriteria Pejabat Negara Ideal
Menurut Imam Ibnu Taimiyyah, kekuasaan itu memiliki dua pilar utama; kekuatan (al-quwwah) dan amanah (al-amanah). Yang dimaksud dengan al-quwwah (kekuatan) di sini adalah kapabilitas dalam semua urusan. Kuat dalam urusan peperangan misalnya, (wilayah al-harb) terefleksi dalam bentuk keberanian hati, keahlian dalam mengatur perang dan strategi perang, serta keahlian dalam menggunakan alat-alat perang. Kuat dalam urusan pemerintahan terwujud pada kapasitas ilmu dan keadilan serta kemampuan dalam menerapkan hukum-hukum syariah.

Adapun amanah direfleksikan pada takut kepada Allah SWT, tidak menjual ayat-ayat-Nya dengan harga murah dan tidak pernah gentar terhadap manusia. (Imam Ibnu Taimiyah, As-Siyâsah asy-Syar’iyyah, 1/6-7, 9). Senada dengan Imam Ibnu Taimiyah, Syaikh Taqiyyuddin an-Nabhani menyatakan bahwa seorang pejabat negara harus memiliki 3 kriteria penting; al-quwwah (kekuatan); at-taqwa (ketakwaan); dan al-rifq bi ar-ra’iyyah (lembut terhadap rakyat).

Al-‘Allamah Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani mengemukakan, kekuatan di sini adalah kekuatan ‘aqliyyah dan nafsiyyah. Seorang pemimpin harus memiliki kekuatan akal yang menjadikan dirinya mampu memutuskan kebijakan yang tepat dan sejalan dengan syariah Islam. Seorang yang lemah akalnya pasti tidak akan mampu menyelesaikan urusan-urusan rakyatnya. Lebih dari itu, ia akan kesulitan untuk memutuskan perkara-perkara pelik yang harus segera diambil tindakan. Pemimpin yang memiliki kekuatan akal akan mampu menelorkan kebijakan-kebijakan cerdas dan bijaksana yang mampu melindungi dan mensejahterakan rakyatnya. Sebaliknya, pemimpin yang lemah akalnya sedikit-banyak pasti akan menyusahkan rakyatnya.

Selain harus memiliki kekuataan ‘aqliyyah, seorang pemimpin harus memiliki kekuatan nafsiyyah (kejiwaan) semacam sabar, tidak tergesa-gesa, tidak emosional dan lain sebagainya. Seorang pemimpin yang lemah kejiwaannya cenderung akan mudah mengeluh, gampang emosi, serampangan dan gegabah dalam mengambil tindakan. Pemimpin seperti ini tentunya akan semakin menyusahkan rakyat yang dipimpinnya.

Adapun ketakwaan adalah salah satu sifat penting yang harus dimiliki seorang pemimpin maupun penguasa. Pemimpin yang bertakwa akan selalu berhati-hati dalam mengatur urusan rakyatnya. Pemimpin seperti ini cenderung untuk tidak menyimpang dari aturan Allah SWT. Ia selalu berjalan lurus sesuai dengan syariah Islam dan berusaha sekuat tenaga untuk menerapkan hukum-hukum Allah SWT. Ia sadar bahwa kepemimpinan adalah amanah yang akan dimintai pertanggungjawaban kelak pada Hari Akhir. Untuk itu, ia akan selalu menjaga tindakan dan perkataannya. Berbeda dengan pemimpin yang tidak bertakwa; ia condong untuk menggunakan kekuasaannya untuk menindas, menzalimi dan memperkaya dirinya. Pemimpin seperti ini merupakan sumber fitnah dan penderitaan.

Selanjutnya adalah memiliki sifat ar-rifq (lemah-lembut) tatkala bergaul dengan rakyatnya. Sifat ini juga sangat ditekankan oleh Rasulullah saw.Dengan sifat ini, pemimpin akan semakin dicintai dan tidak ditakuti oleh rakyatnya. Dalam sebuah riwayat dikisahkan, bahwa Aisyah ra. berkata, “Saya mendengar Rasulullah saw. berdoa di rumah ini, ‘Ya Allah, siapa saja yang diserahi kekuasaan untuk mengurusi urusan umatku, kemudian ia membebaninya, maka bebanilah dirinya. Siapa saja yang diserahi kekuasaan untuk mengurus urusan umatku, kemudian ia berlaku lemah lembut, maka bersikap lembutlah kepada dirinya.’” (HR Muslim).

Berkaitan hubungan rakyat dan penguasa, Rasulullah SAW bersabda,  “Sebaik-baik pemimpin kalian adalah mereka yang kalian cintai, dan merekapun mencintai kalian. Mereka mendoakan kalian, dan kalian pun mendoakan mereka. Dan, seburuk-buruk pemimpin kalian adalah mereka yang kalian benci, dan mereka pun membenci kalian. Kalian melaknat mereka, dan mereka pun melaknat kalian.” (HR Muslim, at-Tirmidzi, Ahmad dan ad-Darimi)

Agar menjadi pemimpin yang dicintai dan didoakan oleh rakyat, seorang pemimpin harus mencintai dan mendoakan rakyatnya. Bagi pemimpin, mencintai dan mendoakan rakyat itu tidak lain adalah dengan mengurusi seluruh urusan mereka dengan penuh kasih sayang. Memenuhi seluruh kebutuhan mereka; sandang, papan, pangan, pendidikan, keamanan dan kesehatan mereka. Jauh dari tabiat menyakiti, apalagi membebani dan memalak mereka. Sebab, ketika mereka menyakiti, membebani dan memalak rakyatnya, bukan saja mendapatkan kebencian dan laknat dari mereka, tetapi juga doa (kutukan) dari Nabi SAW:

“Ya Allah, siapa saja yang diberi amanah untuk mengurus urusan umatku sekecil apapun, lalu memberatkan mereka, maka beratkanlah dia. Dan, siapa saja yang diberi amanah untuk mengurus urusan umatku sekecil apapun, kemudian dia bersikap penuh kasih sayang kepada mereka, maka kasihilah dia.” (HR Muslim, Ahmad, Ibn Hibban dan al-Baihaqi)

Karena itu, Indonesia dan umat Islam di seluruh dunia saat ini membutuhkan pemimpin yang berkarakter. Namun, karakter ideal ini merupakan faktor personal kepemimpinan seseorang sehingga kredibel untuk menjadi pemimpin. Hal ini belum cukup, jika sistem yang digunakan memimpin rakyatnya bukanlah sistem yang baik. Sistem yang baik harus datang dari Dzat yang Maha Baik, yaitu Allah SWT. Itulah sistem syariah, yang digunakan untuk mengurus dan mengatur seluruh aspek kehidupan mereka. Baik dalam aspek pemerintahan, ekonomi, sosial, pendidikan, sanksi hukum, politik dalam dan luar negeri, maupun yang lain. Semuanya bersumber dari syariah. Hanya dengan itulah, kehidupan mereka akan dipenuhi berkah dari langit dan bumi. (Bahrul ulum)

 

Add comment


Security code
Refresh

Online Support

Pemkot Makassar Bentuk Investmen Center

Pemerintah Kota Makassar melalui Badan Perizinan Terpadu dan Penanaman Modal menggelar diskusi membahas pengembangan potensi unggulan daerah dalam rangka pembentukan pusat investasi (investment centre) bintang lima, Selasa (26/4/2016).

Diskusi yang berlangsung di Karaeng Room Hotel Santika Makassar itu dihadiri sejumlah stakeholder, dengan narasumber Keua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Sulsel, Zulakrnai Arif, Konsultan Pusat Layanan Usaha Terpadu (PLUT) KUMKM Sulsel yang juga Direktur Makassarpreneur, Bahrul ulum dan Pengamat Ekonomi Unhas, DR. Marzuki, DEA

Kepala Badan Perizinan Terpadu dan Penanaman Modal Makassar Taufiek Rachman mengatakan, investement centre merupakan ide Walikota Makassar, Danny Pomanto yang bertujuan meningkatkan pererkomian masyarakat. Investment forum ini diharapkan akan mengembalikan kejayaan Makassar sebagai hub untuk Kawasan Indonesia Timur (KTI).

Read more text

Komentar Terbaru

Statistik Pengunjung

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterHari ini113
mod_vvisit_counterMinggu ini113
mod_vvisit_counterBulan ini113
mod_vvisit_counterSemua hari373781

We have: 39 guests online
IP Anda: 54.167.253.186
 , 
Today: Nov 19, 2017