• Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size
home : Artikel : Motivasi dan Inspirasi : MENUJU KEBANGKITAN INDONESIA
MENUJU KEBANGKITAN INDONESIA PDF Cetak E-mail
Motivasi & Inspirasi
Kamis, 19 Mei 2011 16:08

Indonesia, sebuah negeri yang indah, terhampar dengan panjang ribuan kilometer dengan lebih dari 220 juta manusia ada di dalamnya. Keanekaragaman hayatinya terbanyak kedua di seluruh dunia. Wilayah hutan tropisnya terluas ketiga di dunia dengan cadangan minyak, gas alam, emas, tembaga dan mineral lainnya. Indonesia memiliki tanah dan area lautan yang luas dengan berjenis-jenis ekologi, menempati hampir 1,3% dari wilayah bumi, mempunyai 10% jenis tanaman dan bunga di dunia, 12% jenis binatang menyusui, 17% jenis burung, 25% jenis ikan, dan 10% sisa area hutan tropis kedua setelah Brazil. Di daratan terdapat berbagai barang tambang berupa emas, nikel, timah, tembaga, batu bara, dan penghasil minyak (World Bank, 1994). Namun, kekayaan alam yang merupakan anugerah terbesar dari Allah SWT tidak dapat membuat bangsa ini bangkit, berdaya, dan maju.

Sebaliknya, sebagai sebuah bangsa, Indonesia sedang mengalami dan bergerak menjadi negara gagal (failed state). Kegagalan Indonesia antara lain mengacu pada indeks negara gagal yang dirilis majalah Foreign Policy (2010), Indonesia menempati peringkat ke-61 negara paling gagal di dunia. Secara kasat mata, kehidupan rakyat Indonesia masih terpuruk. Konflik antar-agama, antar-suku, antar para pendukung calon kepala daerah dalam Pilkada, antara buruh dan majikan, dan lain-lain di tengah-tengah masyarakat masih sering terjadi.

Di bidang ekonomi, kemiskinan melanda sekitar 30 juta warga di atas bumi Indonesia yang kaya-raya. Di bidang sosial, tingginya tingkat pengangguran berkontribusi besar meningkatkan angka kriminalitas. Hancurnya industri nasional akibat gempuran perdagangan bebas, meningkatnya angka korupsi, buruknya perilaku elit politik. Di bidang pendidikan, banyak gedung sekolah yang tidak layak pakai, dekadensi moral remaja dan berbagai fakta tak terbantahkan lainnya.

Hakikat Kebangkitan

Kebangkitan, suatu kata yang bermakna adanya perbaikan atau peningkatan suatu taraf peningkatan ke arah yang lebih baik. Kebangkitan juga berarti adanya suatu kesadaran untuk melakukan perubahan. Kebangkitan menunjukkan berubahnya kondisi suatu umat atau bangsa dari suatu keadaan yang buruk menjadi keadaan yang baik atau terpecahkannya seluruh permasalahan kehidupan menurut pandangan hidup tertentu.
Pengaturan urusan manusia ditentukan dan didasarkan pada pemikiran mendasar tentang hakikat hidup dan kehidupan, yaitu pemikiran menyeluruh tentang alam semesta, kehidupan dan manusia. Dengan kata lain, pengaturan urusan manusia itu didasarkan akidah, pandangan hidup atau ideologi.

Dengan demikian, kebangkitan hakiki adalah kebangkitan atas dasar ideologi, yaitu akidah yang memancarkan sistem pengaturan urusan manusia.
Barat bangkit karena ideologinya, yaitu Sekulerisme-Kapitalisme. Uni Soviet, sebelum bubar, bangkit karena ideologinya, yaitu Sosialisme-Komunisme. Umat Islam pun dulu bangkit karena ideologinya, yaitu Islam. Sebaliknya, Indonesia yang mengklaim bukan negara sekuler dan bukan pula negara agama (Islam) tidak pernah bangkit. Ini wajar saja. Sebabnya, landasan kebangkitannya tidak ideologis. Akibatnya, ekonomi amblas, dikuasai oleh segelintir orang dan pihak asing. Akidah umat Islam juga tidak terjaga.

Kebangkitan (an-nahdlah) sebagaimana menurut Hafidz Shalih dalam kitabnya “An-Nahdlah” adalah meningkatnya taraf berfikir umat. Kebangkitan yang shahih adalah kebangkitan yang diletakkan di atas azas ruhiya , artinya kebangkitan yang dibangun dengan landasan pemikiran yang mengaitkan segala aktifitas manusia dengan Allah SWT.

Dengan demikian, hanya dengan ideologi Islam manusia dapat meraih kebangkitan hakiki, sebaliknya kebangkitan yang dibawa selain ideologi Islam, yakni Kapitalisme-Sekuler maupun Sosialisme-Komunis adalah kebangkitan semu dan sudah terbukti menimbulkan banyak efek negatif berupa kerusakan, kemiskinan, kesenjangan, ketidakadilan dan ketidaktentraman hidup.

Bangkitlah dengan Islam

Sudah 65 tahun bangsa Indonesia merayakan kemerdekaan dan sudah 103 tahun memperingati hari kebangkitan nasional. Kenyataanya, harapan untuk bangkit, maju, mandiri dan sejahtera masih jauh panggang dari api. Meskipun Indonesia secara fisik sudah merdeka, faktanya negera-negara Barat tetap berusaha menjajah dengan cara baru.

Di bidang ekonomi, penjajahan dilakukan melalui ketergantungan terhadap hutang luar negeri. Di bidang kebudayaan, globalisasi informasi yang ditimbulkan oleh kemajuan luar biasa di bidang teknologi informasi bak pisau bermata dua, satu sisi menguntungkan dari sisi infomasi namun sisi negatifnya setiap keluarga-keluarga dicekoki dengan gaya hidup, perilaku dan cara berfikir Barat.  Liberalisasi budaya dan agama tampak semakin marak. Budaya Barat yang hedonis semakin berkembang di negeri ini. Wacana liberalisasi agama bahkan sudah menyentuh sendi-sendi pokok akidah dan syariah.

Lebih dari itu, di antara fakta yang terlihat jelas di negeri ini adalah adanya rasa rendah diri dan sangat sering memandang apa yang datang dari Barat sebagai maju, ideal, baik dan menyelamatkan. Apapun konsep, ide, gaya hidup yang berasal dari Barat begitu saja diterima dan diikuti. Berbagai fakta tersebut dan yang lainnya menandakan ciri-ciri bangsa yang sakit, bangsa yang membebek dan pengikut. Tak terhitung jumlahnya hukum dan perundang-undangan negeri muslim, termasuk Indonesia, yang masih bersumber dari Barat.

Berbagai fakta-fakta di atas menunjukkan bahwa bangsa kita masih terpuruk, meskipun setiap tahun bangsa kita memperingati hari Kebangkitan Bangsa. Namun kenyataan menunjukkan bahwa bangsa Indonesia sampai saat ini belum bangkit.

Persoalan mendasar bangsa kita sesungguhnya terletak pada paradigma yang diemban yang tegak dari azas ideologi yang salah, yaitu kapitalisme-sekuler. Meskipun setiap saat dikemukakan bahwa Pancasila adalah dasar negara, dengan sila pertama Ketuhanan Yang Mahaesa, tetapi ketika kita melakukan penataan kehidupan, bukannya aturan Tuhan yang kita amalkan tetapi malah lebih banyak menerapkan paradigma kapitalisme-sekuler.

Apa yang disebut dengan "Ekonomi Pancasila" atau "Demokrasi Pancasila", misalnya, yang diharapkan bisa mengatur kehidupan ekonomi dan politik masyarakat, sesungguhnya tidak pernah ada, baik secara teori apalagi praktek. Kenyataannya, sistem aturan yang diterapkan di tengah-tengah masyarakat adalah aturan-aturan yang bersumber dari sistem Kapitalisme-Sekuler yang bercirikan liberalisme, individualisme, dan pragmatisme.  Kalau Pancasila sebagai ideologi, mengapa justru aturan atau undang-undang di negara lain yang menjadi rujukan, bahkan menjadi alasan anggota DPR melakukan kunjungan studi banding ke luar negeri setiap tahun.

Semua hal di atas tidak lain karena diadopsinya Kapitalisme sebagai ideologi global yang melakukan penjajahan dalam sektor pendidikan, politik, ekonomi dan lain-lain. Mereka yang mengekor pada ideologi ini akan menjadi terjajah secara otomatis. Kalau ingin bangkit, bangsa yang besar ini harus berani melakukan perubahan radikal untuk tidak lagi mengekor pada kapitalisme dan saatnya membangun paradigma kehidupan bangsa yang memiliki tujuan dengan ideologi yang memiliki independen kuat dan tangguh.

Bila di dunia ini hanya hanya ada 3 (tiga) ideologi yaitu Kapitalisme-Sekuler, Sosialisme-Komunis dan Islam, maka saatnya kini meraih kebangkitan hakiki dengan Islam. Dalam hal ini, kebangkitan hakiki adalah kebangkitan atas dasar pemikiran (fikrah). Islamlah satu-satunya fikrah yang shahih, yang didasarkan pada ruh, yang mengakui keberadaan Allah SWT dengan segala kewenangan-Nya dalam seluruh aspek kehidupan. Dengan demikian, kebangkitan atas dasar Islamlah satu-satunya kebangkitan yang shahih. Sebabnya, Islam disandarkan pada azas (akidah) yang mustahil memiliki kekurangan dan kesalahan.

Dengan ideologi Islamlah manusia dapat meraih kebangkitannya yang hakiki. Sebaliknya, kebangkitan yang dibawa oleh ideologi selain Islam –Kapitalisme-Sekuler maupun Sosialisme-Komunis– adalah kebangkitan yang semu dan sudah terbukti menimbulkan banyak efek negatif berupa kerusakan, kemiskinan, kesenjangan, ketidakadilan, dan ketidaktenteraman hidup. Karena itu, jika Sosialisme-Komunis terbukti telah gagal membawa manusia pada kebangkitan yang hakiki, demikian pula dengan Kapitalisme-Sekuler saat ini yang telah membawa banyak kerusakan bagi manusia, sudah selayaknya kembali pada ideologi Islam. Hanya ideologi Islam-lah yang telah terbukti mampu mengantarkan manusia pada kebangkitan yang hakiki.(BUI)

 

Add comment


Security code
Refresh

Online Support

Komentar Terbaru

Statistik Pengunjung

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterHari ini119
mod_vvisit_counterMinggu ini119
mod_vvisit_counterBulan ini119
mod_vvisit_counterSemua hari373787

We have: 59 guests online
IP Anda: 54.198.221.13
 , 
Today: Nov 20, 2017