• Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size
home : Artikel : Motivasi dan Inspirasi : Cendekiawan Muslim Muda Meretas Jalan Kebangkitan
Cendekiawan Muslim Muda Meretas Jalan Kebangkitan PDF Cetak E-mail
Motivasi & Inspirasi
Minggu, 20 Maret 2011 11:47

Indonesia sudah mengalami banyak tahapan perubahan sosial yang dipicu oleh kaum muda. Tiap zaman diilhami dengan semangat yang berbeda, yaitu semangat perlawanan pada tahun 1945, semangat menghapus pada ketergantungan Jepang dan semangat perubahan tahun 1998. Faktanya memang kemajuan dan perubahan hanya bisa dimulai oleh mereka yang masih muda.

Dalam meretas jalan kebangkitan maka setidaknya ada lima kunci kekuatan yang mesti dimiliki pemuda. Kelima karakteristik kunci itu adalah idealisme, intelektual, kritis serta kepekaan sosial, keberanian dan pengorbanan. Inilah lima karakteristik yang harus ada pada pemuda pendobrak dan agen-agen perubah. Tentunya kelima karakteristik tersebut harus dibarengi dengan pemahaman yang matang tentang ideologi yang akan menjadi patron dalam membawa dan meretas jalan kebangkitan.

Olehnya cendekiawan muslim muda punya peran sangat signifikan dalam meretas jalan kebangkitan yang hakiki. Cendekiawan muda muslim, merupakan tiga kata kunci yang sarat makna dan menuntut peran nyata bagi yang menyandangnya. Kata cendekiawan yang dalam Al-Qur’an disebut ulul albab adalah perwujudan aktifitas akal dan hati. Akallah yang telah membuktikan kebenaran Islam dan setelah terbukti hati akan meyakini, selanjutnya mendorong setiap muslim yang memahami dan meyakininya untuk bergerak, menjadi agen-agen perubah di tengah-tengah masyarakat.
Kata muda menunjukkan sosok yang produktif, progresif, kreatif serta inovatif, yang menunjukkan besarnya potensi sekaligus tanggung jawab, sehingga Rasulullah SAW mengingatkan mempergunakan lima kesempatan, di antaranya masa muda sebelum datangnya masa tua.

Kata kunci muslim menunjukkan bahwa berislamnya seseorang menuntut adanya totalitas. Karakter Islam yang syumul mewarnai seluruh aspek kehidupan sehingga pola pikir, emosi, perasaan dan juga fisik terwarnai dengan Islam. Dengan syahadah, seorang muslim meyakini dia memang diciptakan hanya untuk beribadah kepada Allah, bahwa tidak ada yang dapat memberinya kemudharatan kecuali atas izin Allah, sehingga dengan demikian tidak ada satupun yang ditakutinya. Kalaupun ia harus berkorban harta bahkan sampai nyawa sekalipun, dia sadar apapun hasilnya akan berupa kebaikan, matinya adalah syahid dan hidupnya adalah kemuliaan.

Saatnya kini lahir gerakan besar kebangkitan umat yang dilandasi kesadaran dan keyakinan yang dipelopori kaum muda. Pemuda yang membekali diri dengan pemahaman Islam yang jernih secara mendalam sehingga mampu menampilkan Islam sebagai sistem yang komprehensif. Pemuda yang siap menyongsong peradaban masa depan, yang disebut futurolog Alvin Toffler sebagai peradaban gelombang ketiga, peradaban yang lebih mengutamakan pelipatgandaan kekuatan pikir manusia. Abad dimana akselerasi perubahan dan kemajuan semakin tinggi dan intens seiring kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Kebangkitan (an-nahdlah) sebagaimana menurut Hafidz Shalih dalam kitabnya “An-Nahdlah” adalah meningkatnya taraf berfikir umat. Kebangkitan yang shahih adalah kebangkitan yang diletakkan di atas azas ruhiyah artinya kebangkitan yang dibangun dengan landasan pemikiran yang mengaitkan segala aktifitas manusia dengan Allah SWT. Dengan demikian, hanya dengan ideologi Islam manusia dapat meraih kebangkitan hakiki, sebaliknya kebangkitan yang dibawa selain ideologi Islam, yakni Kapitalisme-Sekuler maupun Sosialisme-Komunis adalah kebangkitan semu dan sudah terbukti menimbulkan banyak efek negatif berupa kerusakan, kemiskinan, kesenjangan, ketidakadilan dan ketidaktentraman hidup.

Secara ringkas dapat dikatakan bahwa kolonialisme, modernisasi, dan globalisasi adalah agenda negara kapitalis yang telah terbukti tidak membawa kebaikan kepada dunia. Kegagalan ini wajar, karena semua agenda itu memang bukan bertujuan untuk memberikan kebaikan bagi dunia, melainkan bertujuan untuk menindas sesama manusia demi kepentingan bisnis pemilik modal.

Maka, Kapitalisme sesungguhnya telah gagal. Tapi, meski sisa-sisa kekuatannya mulai keropos, ia masih cukup kuat untuk menindas dan menekan, seperti nampak dalam tindakan Amerika Serikat pada apa yang mereka sebut perang melawan terorisme. Tapi dari hari ke hari dunia tidak semakin cinta kepada semua penindasan itu, sebaliknya semakin membenci dan muak. Sementara itu, Sosialisme yang sudah sejak tahun 1990-an masuk museum sejarah, meski sisa-sisanya masih ada di sebagian negara, seperti Kuba dan Korea Utara, tapi semuanya sebenarnya telah bermetamorfosis menuju pada kapitalisme baik secara terang-terangan maupun tidak.

Maka sesungguhnya harapan umat manusia hanya tinggal satu, yakni Islam. Sudah semestinya, sejarah memberikan kesempatan pada Islam. Cepat atau lambat, suka atau tidak suka, ideologi Islam akan tampil kembali ke muka bumi. Umat Islam tak dapat terus menerus ditekan untuk mengikuti ideologi yang menjauhkan dari agamanya. Juga tidak mungkin terus menerus diajak untuk menghindar dari kewajiban untuk mewujudkan Islam sebagai tatanan hidup di dunia.

Umat Islam harus memiliki kembali pemikiran Islam yang utuh dan menyeluruh serta jelas tentang gambaran kehidupan Islam di masa depan serta memahami fakta-fakta yang sedang terjadi sekarang sehingga menemukan strategi dan taktik implementasi konsepsi mereka dalam realitas kehidupan. Penguasaan khazanah pemikiran Islam dan kebiasaan berpikir menghubungkan pemikiran tersebut dalam realitas kehidupan akan membentuk kepakaran dan keahlian (experties) umat dalam mewujudkan visi dan misi kehidupan mereka. Sebab, tradisi menghubungkan informasi maupun konsep pemikiran dengan realitas akan membentuk metode berpikir yang produktif dalam diri umat ini dan mereka akan menjadi umat yang bertradisi berfikir, ummah mufakkirah, umat yang mampu bangkit meniti jalur kehidupan yang luhur.

Semua komponen, terutama pemuda harus membangun komitmen dan idealisme, diaktualisasikan dalam gerak nyata dalam membawa arus perubahan. Dibutuhkan orang-orang yang energik dan produktif, peduli terhadap lingkungannya, terus menerus meningkatkan kualitas iman dan taqwa, kemampuan berpikir, menggali, memahami dan menerapkan iptek serta kehidupan keagamaan dalam kehidupan sosial kemasyarakatan untuk diamalkan bagi terwujudnya masyarakat madani. Dan mereka itulah cendekiawan muslim muda, yang bukan mengejar pragmatisme atau popularitas semata.
Di sinilah pentingnya kepedulian dan peran cendekiawan muda untuk pandai-pandai membaca realitas sosial sehari-hari, menangkap dan memahaminya secara cerdas dan bertanggung jawab, mencari solusi atas berbagai problematika umat dengan menjadikan Islam sebagai poros rujukan. Kiranya sosok pemuda yang diimpikan Al-Qur’an yang berilmu dan berhikmah menjadi sumber insprasi kaum muda cendekiawan muslim dan sumber inspirasi untuk hari ini dan esok, sehingga dapat memberikan kontribusi yang terbaik untuk umat, bangsa dan negara.(Dari Buku "Kebangkitan Pemuda Menjawab Tantangan Zaman-Bahrul ulum,2007)

 

Add comment


Security code
Refresh

Online Support

Komentar Terbaru

Statistik Pengunjung

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterHari ini349
mod_vvisit_counterMinggu ini349
mod_vvisit_counterBulan ini349
mod_vvisit_counterSemua hari374017

We have: 96 guests online
IP Anda: 54.225.3.207
 , 
Today: Sep 25, 2017